Menahan agar emosi tak terbakar oleh sepatah makian mungkin terasa sulit.
Namun, jauh lebih sulit menahan kerusakan diri akibat sebuah sanjungan yang anda telan mentah-mentah.
Bagaikan memar yang terbungkus es, sakit pun tak terasa, namun kerusakan jaringan tetap ada di sana.
Bila anda tak segera mengobatinya, tubuh yang sehat lambat laun membusuk.
Daya hancur sanjungan tak jauh beda dari itu.
Bila makian dapat menghilangkan kesadaran seketika, sanjungan membius secara perlahan dan lembut.
Di balik nikmat sejuk sebuah pujian, tersembunyi memar yang memakan kelak memakan habis kesadaran anda.
Berhati-hatilah dengan setiap pujian, sanjungan dan kehormatan yang anda terima. Itu lebih mudah menamatkan riwayat karier seseorang.
Anda mungkin akan sangat berhati-hati saat berjalan di semak belukar berduri. Kritik pedas bisa saja menolong orang untuk membenahi dan mengokohkan pondasinya.
Namun berjalan di atas pujian membuat orang puas dan lupa akan tujuan. Saat anda terbuai, saat itu anda mudah diruntuhkan.
